| September, 2010 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | ||





Pengunjung hari ini : 12
Total pengunjung : 29961
Hits hari ini : 38
Total Hits : 139455
Pengunjung Online: 6
| Minggu, 04 Juli 2010 Kategori: Radar Barat - Dibaca: 27 kali SMP Dhuafa Seleksi Calon Siswa BANGKO - Salah satu jenjang pendidikan setingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) yang membebaskan biaya pendidikan seratus persen adalah SMP Dhuafa. Bahkan di sekolah ini siswa diasramakan dan biaya makan dan minum ditanggung oleh pengurus yayasan. Untuk menjadi siswa di SMP Dhuafa ini memang ada persyaratan khusus, seperti anak yatim, fakir, miskin dan anak putus sekolah dengan alasan tidak mampu membiayai sekolah. Hari Jumat (2/7) kemarin sekitar 70 calon siswa SMP ini mengikuti seleksi wawancara dan praktek di sekolah tersebut, yang kini terletak di komplek Masjid Agung Kelurahan Pasar Atas Bangko. Dari calon siswa sebanyak itu yang datang dari 24 kecamatan yang ada di kabupaten Merangin, pihak sekolah hanya akan menampung sebanyak 40 siswa untuk tahun ajaran 2010/2011, ini lebih disebabkan karena daya tampung baik sekolah maupun asrama yang cukup terbatas. Apalagi saat ini siswa SMP Dhuafa untuk kelas II dan III masih ada sekitar 16 orang siswa. Ketua Yayasan Sekolah Dhuafa Merangin, Drs Yuneldi Yunis Koto ditemui mengatakan, kedepan pihaknya berupaya untuk memiliki gedung sendiri agar pendidikan dhuafa dapat berjalan dengan baik. Dan untuk sementara ini SMP tersebut menunggunakan lokal yang ada di komplek Masjid Agung Pasar Atas Bangko. " Terutama kepada pengurus mesjid Agung Pasar Atas, kami mengucapkan terimaksih atas kesediaanya meminjamkan local untuk belajar anakanak SMP Dhuafa, "kata orang yang biasa disapa H Uyun ini. Sementara itu Kepala Sekolah SMP Dhuafa Merangin Nedius SPd ditemui disela-sela menyeleksi calon siswa SMP Dhuafa mengatakan dari 66 siswa, 12 diantaranya adalah anak yatim, 5 putus sekolah sejak tahun 2008, 3 anak terlantar, 1 piatu dan selebihnya dalah fakir miskin. Menurut Nedius untuk biaya makan para siswa yang tinggal diasrama ada bantuan dari Dinas Sosial Provinsi Jambi untuk 20 orang anak, dan selebihnya mengandalkan bantuan dari para donatur yang ada di kabupaten ini. "Dinas Sosial Provinsi Jambi membantu biaya makan untuk 20 orang anak, dan selebihnya bantuan dari para donatur, "terangnya. Bahrun, orang tua calon siswa di SMP Dhuafa yang tinggal di Talang Kawo Bangko ini mengaku sangat tidak mampu untuk meneruskan pendidikan anaknya, sementara di SMP Dhuafa selain bebas biaya sekolah menurutnya cara yang diterapkan kepada siswa dalam mengikuti cukup baik. Hal senada juga dikatakan Dede orang tua dari Salamiah warga Sungai Manau, "Anak kami berlima lah yatim dan anak kami ingin sekolah, " katanya sambil meneteskan air mata. Melihat kenyataan didepan mata kita, ternyata masih banyak warga kabupaten ini yang tidak mampu untuk meneruskan pendidikan anak-anaknya, jelas menggugah hati kita. Bagi warga kabupaten ini yang ingin memberikan bantuannya untuk kelancaran pendidikan di SMP Dhuafa, pihak yayasan tentunya akan menerima dengan senang hati. (cw4) BERITA TERKAIT
Isi Komentar : |