| September, 2010 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | ||





Pengunjung hari ini : 6
Total pengunjung : 29955
Hits hari ini : 15
Total Hits : 139432
Pengunjung Online: 6
| Jumat, 23 April 2010 Kategori: Radar Bisnis - Dibaca: 210 kali Jambi Olah Kayu Manis Jadi Minyak Atsiri Jambi - Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi tahun ini mulai melakukan pengolahan produk turunan hasil komoditi perkebunan tanaman kayu manis menjadi minyak atsiri yang akan dijadikan produk andalan daerah. Kasubdin Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkabunan Disbun Jambi Ir Jerry Darli di Jambi, Kamis mengatakan, daun kayu manis yang banyak terdapat di Kabupaten Kerinci dan Merangin, akan dimanfaatkan dan diolah menjadi minyak atsiri yang berpotensi untuk dieskpor. Pengolahan daun kayu manis menjadi minyak atsiri tersebut merupakan program baru yang pertama kalinya akan dikembangkan Dinas Perkebunan bersama petani di dua kabupaten tersebut setelah dilakukan penelitian sebelumnya. Saat ini sudah ada pihak yang berencana membeli dan menampung hasil olahan tersebut, yang akan dijual ke pasaran lokal maupun diekspor bila hasilnya berkualitas baik. "Memang selama ini belum ada kalangan petani kayu manis di Kabupaten Kerinci dan Merangin yang mencobanya, sehingga tahun ini Disbun Jambi akan memulainya dengan membentuk beberapa kelompok tani agar bisa mengolah hasil tambahan dari komoditi perkebunan kayu manis tersebut," katanya. Minyak atsiri hasil olahan dari daun kayu manis dikabarkan bisa dipakai untuk bahan dasar pembuatan kosmetika dan bahan makanan yang punya pangsa pasar tersendiri, baik lokal maupun luar negeri, kata Jerry. Program ini merupakan kegiatan rintisan, sehingga untuk mencobanya baru akan diberlakukan kepada beberapa kelompok tani setempat saja, dan bila hasilnya cukup baik, program ini akan diteruskan untuk dikembangkan dan digilir kepada kelompok tani lainnya yang ada di kabupaten tersebut. "Bila program ini berhasil dan berkembang, kegiatan tersebut akan terus disosialisasikan kepada para petani kayu manis melalui kelompok tani yang dilakukan secara bergilir di Kabupaten Kerinci dan Merangin," ujarnya. Provinsi Jambi yang menjadikan kulit kayu manis sebagai salah satu andalan ekspornya, kini mencoba melakukan terobosan baru dengan menghasilkan produk turunan dari daun kayu manis tersebut untuk dijadikan minyak atsiri. Total produksi kulit kayu manis dari Provinsi Jambi yang terpusat di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh serta Kabupaten Merangin mencapai 57.790 ton per tahun berdasarkan angka hasil produksi pada 2008. Melihat angkat tersebut, produk turunan dari pertanian itu sangat potensial untuk dikembangkan menjadi minyak atsiri yang sudah memiliki pasar tersendiri, baik tingkat lokal maupun pasar luar negeri. Saat ini harga kulit kayu manis yang dijual pada tingkat pengumpul di pasaran lokal mencapai Rp7.000 per kilogram dengan kualitas baik, sementara kualitas rendah mencapai Rp4.500/Kg. "Dengan adanya program pengembangan pengolahan produk turunan dari pohon kayu manis tersebut, selain kulit kayu manisnya bisa dijual, daunnya juga bisa dikembangkan untuk menjadi minyak atsiri, sehingga bisa menjadi tambahan pendapatan bagi petani," kata Jerry Darli. (ant) BERITA TERKAIT Isi Komentar : |